Kemacetan Surabaya

Surabaya merupakan kota metropolitan. Kota ini menjadi kota terluas kedua di Indonesia setelah ibukota negara, DKI Jakarta. Konsekuensi sebagai kota metropolitan, menyebabkan Surabaya mendapat limpahan penduduk yang besar dari berbagai kota. Ibukota provinsi Jawa Timur ini tercatat sebagai kota terpadat kedua setelah DKI Jakarta dengan jumlah penduduk tercatat pada tahun 2012 lalu sebanyak 3.110.187 jiwa. Dengan jumlah penduduk yang banyak tersebut, sudah pasti akan membuka semakin banyak permasalahan dalam kota.

            Masalah kepadatan penduduk selalu membawa rentetan masalah-masalah lainnya di belakang. Tidak terkecuali masalah klasik yang sering kali kita lihat di kota besar, kemacetan. Bukan merupakan sesuatu hal yang mengejutkan lagi jika kita menemui masalah macet ketika berada di kota besar macam Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Bahkan di beberapa kota berkembang lainnya juga sudah mulai sering terjadi kemacetan lalu lintas. Hal semacam ini selalu membawa dampak negatif di dalamnya, baik pada kondisi lalu lintas, maupun pengguna jalannya.Bahkan saya yang berada dalam posisi sebagai pendatang baru di kota Pahlawan ini, sudah cukup kenyang mendapati kondisi kemacetan lalu lintas kota.

Macet

            Jika dilihat melalui kacamata orang awam, mudah saja menyimpulkan penyebab kemacetan di Surabaya. Adalah jumlah kendaraan yang semakin tidak terkontrol, baik mobil, motor, maupun kendaraan lain, yang kemudian bersama-sama tumpah ruah di jalanan lalu lintas sehingga menyebabkan terjadinya permasalahan umum ini. Terlebih lagi pertumbuhan jumlah mobil disini. Saya melihat bahkan jumlah mobil di jalan-jalan besar justru mendominasi ketimbang kendaraan-kendaraan lain seperti motor dan sebagainya. Padahal harga mobil jauh diatas motor. Hal ini terlihat karena mobil tidak menjadi barang mewah dan mahal lagi. Mobil telah menjadi kendaraan wajib yang harus dimiliki setiap keluarga dari kalangan menengah hingga ke atas, paling tidak satu buah. Kemudian setelah memiliki satu, timbul keinginan untuk membeli lagi, terus seperti itu siklusnya hingga jalanan Surabaya menjadi penuh sesak dengan kendaraan beroda empat tersebut. Belum lagi masalah ego yang dimiliki setiap pengguna jalan terutama mobil dan motor, dimana semuanya mementingkan kepentingan pribadi, mengabaikan peraturan lalu lintas, dan tidak jarang juga membahayakan pengguna jalan lainnya, termasuk pejalan kaki.

            Pada awalnya saya terkejut dengan sikap pengguna kendaraaan di kota ini yang sangat berani menantang nyawa dengan selalu mendahulukan kendaraannya lewat. Belum lagi hitungan mundur lampu merah yang  terbilang sangat lama hingga membuat banyak orang yang melanggar, baik dengan berhenti menunggu di depan zebra cross, maupun menerobos jalan sebelum lampu menunjukkan warna hijau. Sungguh tragis melihat bagaimana sikap para pengendara kendaraan di kota metropolis ini. Tindakan-tindakan semacam ini menjadi tidak mengherankan jika kemudian menyebabkan kemacetan. Di Surabaya sendiri, titik-tik kemacetan  Jl A Yani, Jl Dupak, Jl Raya Darmo-Polisi Istimewa, Jl Wonokromo TL Alafalah, Jl Margomulyo, Jl Kedung Cowek, Jl Basuki Rahmad depan TP, Jl Kebonrojo-Veteran, Jl Pasar Kembang, Jl Tembaan, Jl Gunungsari Rolak, dan  Jl Raya Nginden. Saya sendiri belum mencoba melewati seluruh jalanan tersebut, namun beberapa sudah saya rasakan kondisi macetnya. Titik-titik kemacetan ini tidak setiap waktu terjadi, kebanyakan akan kita rasakan ketika jam-jam tertentu, seperti jam berangkat sekolah, berangkat kerja, pulang sekolah, pulang kerja, dan primetime.

Macet2

            Sebenarnya sudah banyak solusi yang diterapkan di Surabaya ini. Kota yang besar akan membawa banyak pemikiran solusi penanggulangan pula. Penambahan volume kendaraan massal sudah banyak diterapkan, mulai dari bus kota, bus kecil, mikrolet, hingga angguna. Bahkan dalam waktu dekat, walikota Surabaya, Tri Rismaharini, berencana akan membangun MRT (Mass Rapid Transit) dan monorel. Semua cara ini bertujuan untuk mengatasi Surabaya yang sudah terlalu padat. Namun semua ini kembali pada kesadaran pengguna jalannya kembali. Menjadi percuma semua pemberlakuan solusi tersebut jika kita yang berperan sebagai pengguna jalannya, tidak cukup “sadar” untuk mengikuti aturan yang diberikan pemerintah. Untuk itulah sudah seharusnya kita mulai berpikir terhadap penggunaan kendaraan massal agar dapat mengurangi volume kendaraan di jalanan serta tertib dalam mematuhi setiap peraturan yang telah ditetapkan pemerintah. Sehingga dengan begitu, kita akan lebih mudah dan lancar menggunakan jalanan Surabaya ini.

Referensi :

1. http://www.surabaya.go.id

2. http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=8906750f6e52df1e0f89abadb63fc8fb&jenis=b706835de79a2b4e80506f582af3676a

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s